Sab. Agu 24th, 2019

Mengapa Harus di Pesantren?

2 min read

Oleh: Epul Saipurahman, S.Pd.I*

Kesejukan pagi di SMP T MM semakin terasa menyirami jiwa, mana kala para insan santri melantunkan kalam Ilahi dalam kegiatan harian Literasi Al-Qur’an. Selaku guru yang mengajar jam pertama, tim redaksi memiliki amanah untuk turut serta menemani siswa/siswi yang sedang mengaji di Musholla SMP T MM.

Di serambi musholla, tim redaksi sengaja memberi Isyarat kepada Ust. Epul Saipurahman, S.Pd.I yang sedang ikut memantau kegiatan pagi tersebut. Setelah beliau menghampiri, tim redaksi sengaja bertanya hal yang sangat menarik tentang kaum sarungan.

Sembari menyunggingkan senyuman, Asbid. Kurikulum tersebut menunjukkan rasa bangga tak terhingga ketika ditanya tentang santri. Ia sangat menunjukkan rasa kagumnya terkait kemandirian seorang siswa yang ada di boarding school.

Tentang kemandirian, di usia belia bahkan anak-anak seusia 14 tahun-an sudah berani hidup tanpa pendampingan orang tua, menjaga kesehatan sendiri, membangun motivasi belajar sendiri, bahkan mengolah emosional-sosial dan spiritual sendiri.

Memang ada yang mengatakan lebih baik bersama orang tua di rumah, namun di pesantren tak kalah lebih banyak mengakui jauh lebih baik.

Sambil menunggu kegiatan Literasi Al-Qur’an selesai, Pak Epul (panggilan Akrab, Red.) mengajukan argumen bahwa, seberapapun nakalnya seorang yang ada di pesantren, mereka senantiasa akan selalu mendapat pengaruh positif dari lingkungannya. Mayoritas santri adalah anak bageur dan soleh. Dengan ini, anak yang memiliki kelainan prilaku akan mudah mengikuti lingkungan sekitar untuk kemudian berubah menjadi lebih baik.

Dari konteks ini, controling seorang anak akan sangat mudah dilakukan dengan adanya lingkungan positif yang mendukungnya. Namun, meski demikian, santri akan tetap dilatih bagaimana bisa memiliki proteksi diri agar tidak terpengaruh. Dalam hal ini, Pak Epul menyarankan agar anak selalu berjalan sesuai kode etik kesantriannya. Karena, mereka yang senantiasa istiqomah dengan tugasnya tidak akan mudah dipengaruhi oleh hal negatif di sekitarnya.

Hal yang paling membanggakan adalah, budaya shalat di awal waktu, puasa sunnah bahkan santri memiliki kepekaan sosial yang lebih. Selain itu, santri sangat diuntungkan dengan lingkungannya mana kala ada pelajaran yang tidak difahami, ia akan sangat mudah untuk mencari teman sebagai mitra belajar.

Doa setelah qiro’atul qur’an dengan syahdu dilantunkan, santri bersiap dan kemudian bergegas menuju depan kelas masing masing untuk melakukan ikrar santri. (Zawaya)

  • Asbid. Kurikulum dan guru mapel. Bahasa Arab, PAI dan Fiqih Sunnah asal Cugenang, Cianjur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.
Lewat ke baris perkakas